Rindu Baitullah dan Realita Utang: Epik Sunyi Buruh Cuci dari Serdang Bedagai

By Admin


Ilustrasi
nusakini.com, Di usia 72 tahun, sisa tenaga Sania sehari-hari dihabiskan untuk menggilas pakaian kotor milik orang lain. Sebagai seorang buruh cuci berstatus janda yang hanya bisa menumpang hidup di kediaman anaknya di Serdang Bedagai, jangankan untuk bermimpi menyeberangi benua, untuk sekadar bertahan hidup saja ia harus bertarung dengan keringat. Namun, di balik kerentaannya, perempuan ini menyimpan satu ambisi agung: bersujud di depan Ka'bah.

Lebih dari satu dekade silam, anak-anak Sania patungan menyisihkan rezeki demi mendaftarkan sang ibu ke dalam antrean haji. Sebuah bakti yang menumbuhkan harapan. Belakangan ini, kabar yang ditunggu itu akhirnya tiba; nama Sania resmi dipanggil untuk berangkat ke Tanah Suci pada musim haji tahun ini.

Namun, realita seringkali tak seindah lantunan talbiyah. Panggilan keberangkatan itu datang menyodorkan dilema pelik. Di tengah kondisi ekonomi yang serba pas-pasan, dari mana sang buruh cuci bisa menutupi sisa biaya dan bekal perjalanan?

Kepalang rindu pada Baitullah, mundur jelas bukan pilihan bagi Sania. Bertaruh pada sisa usianya, ia terpaksa mengetuk banyak pintu. Sania mencari pinjaman, merajut utang dari berbagai pihak hanya agar kakinya bisa menginjak padang Arafah. Ia memang berhasil terbang, menunaikan rukun Islam kelima dengan cucuran air mata bahagia.

Kini, ibadah telah usai dan dunia nyata kembali menyapa. Sekembalinya ke kampung halaman, kain ihram telah dilipat, namun tumpukan utang justru menganga, menanti untuk dibayar oleh tangan keriput sang buruh cuci.

Lebih getir lagi, nestapa Sania bukanlah ironi tunggal. Di tengah proses pendataan kementerian yang masih berjalan hingga kini, pemerintah menemukan fakta tajam yang selama ini luput dari gegap gempita pelepasan jemaah: ada banyak pahlawan keluarga dari kelas bawah yang diam-diam memikul beban utang yang mencekik, demi sebuah gelar mabrur di ujung usia. (*)